Sabtu, 18 April 2026

Keputusan Tengah Malam BPM UBT Dipertanyakan: RDP Belum Libatkan Seluruh KBM, Mengapa Presma Langsung Diberhentikan?

PERSMA, 19 April 2026 – Keputusan Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas Borneo Tarakan (BPM UBT) memberhentikan Ketua Umum BEM UBT Muhammad Ariandy Fahreza dan menunjuk Wakil Ketua Umum sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua BEM memicu pertanyaan di kalangan lembaga kemahasiswaan. Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Ketetapan BPM UBT Nomor 012/XI-1/BPM-UBT/SK/2026 yang beredar pada Sabtu malam (19/4) sekitar pukul 00.00 WITA. 

Namun, langkah tersebut dinilai janggal karena sebelumnya dalam forum rapat yang melibatkan sejumlah lembaga kemahasiswaan disepakati bahwa keputusan terkait dinamika BEM UBT akan menunggu sikap seluruh elemen Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UBT, yang terdiri dari lembaga BPM dan BEM fakultas serta Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Sebelumnya, BPM UBT menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada 17 April 2026 di Aula SBSN lantai 2 untuk membahas dinamika internal BEM UBT. Rapat tersebut dilaksanakan berdasarkan adanya mosi tidak percaya dari sebagian pengurus BEM UBT terhadap kepemimpinan ketua umum. 

Dalam berita acara RDP disebutkan bahwa forum menerima berbagai aspirasi dari pengurus BEM UBT yang menilai ketua umum tidak mampu menjalankan komunikasi organisasi secara profesional sehingga menimbulkan perpecahan di internal kepengurusan. 

Namun dalam rapat malam lanjutan yang digelar setelah RDP, sejumlah lembaga fakultas menyampaikan bahwa keputusan terkait keberlanjutan kepemimpinan BEM UBT seharusnya tidak diambil terburu-buru. Dalam rapat tersebut juga beberapa berpendapat agar wakil presiden mahasiswa juga harus turun jika presiden nya turun. Ini dinilai dari kualitas komunikasi dari mereka berdua selama BEM UBT berjalan dan juga karena konflik ini bersumber dari mereka berdua.

Beberapa peserta rapat menyepakati bahwa BPM perlu kembali mengundang seluruh unsur KBM UBT untuk memberikan sikap resmi sebelum keputusan final diambil.

Permasalahan lain juga muncul karena dalam forum tersebut tidak semua lembaga fakultas maupun UKM hadir untuk menyampaikan pendapat. Kondisi ini membuat sejumlah pihak menilai bahwa proses pengambilan keputusan belum sepenuhnya merepresentasikan suara KBM UBT secara keseluruhan.

Beberapa peserta rapat bahkan menilai BPM seharusnya menjadwalkan kembali forum lanjutan hingga seluruh lembaga dapat menyampaikan sikap.

Hingga kini belum ada tanggapan kembali dari BPM UBT terkait keputusan yang diambil dan belum ada juga keterangan langsung dari sang presiden mahasiswa yakni saudara Ariandy Fahreza. Diharapkan dari keputusan ini semoga BEM UBT bisa lebih baik lagi.


FN

Jumat, 17 April 2026

Antara Klarifikasi dan Kontroversi: Ada Apa dengan BEM UBT?


PERSMA, 17 April 2026 – Polemik terkait dualisme klaim kemenangan Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan Utara (BEMSEKA) terus berkembang. Setelah muncul dua klaim kemenangan dari kubu yang berbeda, Presiden Mahasiswa BEM Universitas Borneo Tarakan (UBT), Muhammad Ariandy, menyampaikan klarifikasi melalui media sosial mengenai dasar klaim yang diumumkan oleh pihaknya.

Dalam unggahan tersebut, Muhammad Ariandy menjelaskan bahwa keputusan untuk mengumumkan versi kemenangan didasarkan pada sejumlah pertimbangan yang berkaitan dengan proses pemilihan Korwil BEM se-Kalimantan Utara. Ia menyebutkan adanya dinamika dalam forum yang dinilai menimbulkan ketidakjelasan terhadap hasil akhir pemilihan.

Pertama, ia menyoroti aspek legitimasi delegasi. Disebutkan bahwa Saudara Anhari Firdaus dinilai tidak memiliki rekomendasi maupun mandat yang diperlukan untuk mencalonkan diri sebagai Koordinator Wilayah.

Kedua, ia menilai kurangnya komunikasi dari pihak BEM se-Kalimantan Utara terkait pelaksanaan Musyawarah Wilayah, khususnya dalam kapasitas BEM UBT sebagai tuan rumah. Hal tersebut, menurutnya, berdampak pada penggunaan fasilitas kampus tanpa koordinasi. Selain itu, BEM UBT juga disebut tidak diundang dalam agenda pertemuan dengan pejabat daerah.

Melalui klarifikasi tersebut, ia turut memaparkan sejumlah faktor yang menjadi dasar klaim kemenangan pihaknya, antara lain terkait interpretasi jalannya forum, mekanisme pengambilan keputusan, serta posisi beberapa perwakilan BEM yang terlibat dalam proses pemilihan Korwil. Klarifikasi ini muncul di tengah perbedaan pengakuan hasil pemilihan Korwil BEMSEKA. 

Sebelumnya, pihak BEM se-Kalimantan Utara menyatakan bahwa Wakil Presiden Mahasiswa, Anhari Firdaus, merupakan pihak yang memenangkan posisi tersebut. Sementara itu, kubu BEM UBT mengklaim bahwa Muhammad Ageng, yang menjabat sebagai Ketua BEM Universitas Kaltara, adalah pihak yang terpilih sebagai Korwil.

Tidak lama setelah klarifikasi tersebut dipublikasikan, muncul dinamika lanjutan di lingkungan kampus. Sebuah surat yang ditujukan kepada BPM UBT beredar melalui media sosial, yang berisi permintaan pemakzulan Presiden Mahasiswa BEM UBT.

Dalam surat yang diunggah melalui Instagram tersebut, pihak pengirim menilai bahwa klaim kemenangan yang disampaikan secara sepihak berpotensi menimbulkan dampak terhadap berbagai pihak serta memperkeruh dinamika organisasi kemahasiswaan di tingkat universitas. Oleh karena itu, mereka meminta agar tuntutan tersebut ditindaklanjuti melalui mekanisme yang berlaku di lembaga legislatif mahasiswa.

Hingga berita ini ditulis, belum terdapat pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai langkah yang akan diambil dalam menanggapi surat tersebut. Sementara itu, polemik dualisme klaim kemenangan Koordinator Wilayah BEM se-Kalimantan Utara masih menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa dan berpotensi terus berkembang.

Selasa, 14 April 2026

Dualisme Korwil BEMSEKA: Cermin Rapuhnya Konsolidasi Gerakan Mahasiswa


PERSMA, Selasa, 14 April 2026 – Dinamika organisasi kemahasiswaan kembali menjadi sorotan di Universitas Borneo Tarakan (UBT). Polemik muncul dari penetapan Koordinator Wilayah Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan Utara (Korwil BEMSEKA) yang melahirkan dua klaim kepemimpinan.

Masalah ini bermula dari proses pemilihan Korwil BEMSEKA yang baru saja berlangsung. Namun, forum tersebut tidak menghasilkan satu figur yang disepakati bersama. Justru muncul dua nama dengan klaim kemenangan yang berbeda.

Badan Perwakilan Mahasiswa BPM UBT mengakui Wakil Presiden Mahasiswa UBT, Anhari Firdaus, sebagai Korwil terpilih. Di sisi lain, BEM UBT menyatakan bahwa posisi tersebut dimenangkan oleh Muhammad Ageng, Ketua BEM Universitas Kaltara.

Perbedaan ini membingungkan mahasiswa. Dua figur yang sama-sama mengklaim jabatan Korwil menimbulkan pertanyaan soal keabsahan hasil forum. Proses pemilihan dan mekanisme pengambilan keputusan pun ikut dipertanyakan.

Masalah ini tidak bisa dianggap sepele, dualisme kepemimpinan menyentuh kredibilitas gerakan mahasiswa di tingkat regional. Jika dibiarkan, kepercayaan terhadap forum seperti BEMSEKA bisa menurun.Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Konflik sering muncul karena perbedaan tafsir hasil forum atau aturan yang tidak jelas. 

Namun, ketika tidak ada komunikasi terbuka, konflik mudah membesar dan merusak solidaritas antar organisasi mahasiswa. Di tingkat kampus, polemik ini juga menunjukkan adanya perbedaan sikap antara BEM UBT dan BPM UBT. Keduanya memiliki peran penting dalam mengawal isu mahasiswa. Namun, perbedaan pandangan ini berpotensi memperkeruh hubungan antar lembaga.

Padahal, BEMSEKA dibentuk sebagai ruang konsolidasi gerakan mahasiswa di Kalimantan. Forum ini seharusnya memperkuat solidaritas dan menyatukan suara mahasiswa. Bukan justru menjadi sumber konflik internal. Situasi ini harus menjadi bahan evaluasi bersama. Transparansi, aturan yang jelas, dan komunikasi terbuka adalah kunci menjaga legitimasi kepemimpinan. Tanpa itu, konflik serupa akan terus terulang.

Mahasiswa sebagai kelompok intelektual seharusnya mampu menyelesaikan persoalan secara demokratis. Dualisme ini tidak boleh dibiarkan berlarut. Sebaliknya, ini harus menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola organisasi dan memperkuat konsolidasi gerakan mahasiswa ke depan.

Kamis, 09 April 2026

Aliansi GAMPAR UBT Desak Transparansi Anggaran DPRD dalam Aksi di Tarakan

PERSMA, 08 April 2026 - Aliansi mahasiswa Universitas Borneo Tarakan (UBT) menggelar aksi demonstrasi di Kantor DPRD Kota Tarakan pada Senin (6/4). Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap sejumlah isu yang dinilai mencederai integritas lembaga legislatif, sekaligus menuntut transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran.


Aksi tersebut diinisiasi oleh berbagai elemen mahasiswa, termasuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UBT dan BEM Fakultas Hukum UBT. Mereka menilai terdapat sejumlah persoalan yang perlu segera mendapat perhatian dari pihak DPRD.

Ketua BEM Fakultas Hukum UBT, Hafis menyampaikan bahwa terdapat dua isu utama yang menjadi pemantik aksi. “Pertama, terkait anggaran makan dan minum DPRD Kalimantan Utara yang mencapai Rp12,9 miliar. Kedua, dugaan kasus ijazah palsu yang melibatkan salah satu anggota DPRD Bulungan yang telah ditetapkan sebagai tersangka” ujarnya.

Menurut Hafis, pernyataan salah satu pimpinan DPRD yang dinilai membela anggota dewan berstatus tersangka turut memicu kekecewaan publik. “Pernyataan tersebut dinilai mencoreng integritas sebagai wakil rakyat” tegasnya. Ia menambahkan, mahasiswa memilih jalur demonstrasi karena menilai persoalan tersebut telah berlangsung cukup lama tanpa respons yang memadai.

“Kalau hanya melalui audiensi, prosesnya terlalu lama. Ini menjadi panggilan bagi mahasiswa untuk memulai gerakan karena menyangkut integritas lembaga yang mewakili rakyat” tambahnya.

Presiden Mahasiswa UBT menjelaskan bahwa pemilihan hari Senin sebagai waktu aksi bertujuan agar aspirasi dapat langsung disampaikan kepada pihak yang dituju pada hari kerja. “Kami ingin memastikan aspirasi disampaikan saat pihak DPRD sedang aktif bekerja” jelasnya.

Selain itu, waktu pelaksanaan aksi juga disesuaikan dengan hasil konsolidasi bersama mahasiswa dan kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap isu tersebut.


Meskipun jumlah massa tidak sebesar aksi sebelumnya, aliansi mahasiswa menilai hal tersebut tidak memengaruhi semangat perjuangan. “Dalam perjuangan, yang dilihat bukan jumlah massa tetapi konsistensi dalam memperjuangkan perubahan" ujarnya.

Salah satu tuntutan utama dalam aksi tersebut adalah transparansi anggaran DPRD. Mahasiswa menilai keterbukaan informasi penting agar masyarakat dapat melakukan pengawasan terhadap penggunaan dana publik.

“Kita ingin memastikan apakah belanja yang dilakukan sesuai atau tidak. Jangan sampai ada markup harga. Itu hanya bisa dianalisis jika masyarakat memiliki akses terhadap data anggaran” kata Presiden Mahasiswa UBT.

Mahasiswa menyatakan bahwa apabila tuntutan terkait transparansi dipenuhi, maka poin tersebut dapat dicabut. Namun, tuntutan lain yang belum terpenuhi akan tetap diperjuangkan.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga memberikan waktu 1×24 jam kepada pihak DPRD untuk merespons tuntutan yang disampaikan. “Jika tidak ada tindak lanjut, kami bersama aliansi mahasiswa akan menyiapkan somasi maupun mosi tidak percaya" jelas Hafis.

Sementara itu, Presiden Mahasiswa UBT menegaskan bahwa gerakan mahasiswa tidak akan berhenti pada satu aksi. “Jika aspirasi tidak ditindaklanjuti, kami akan melakukan aksi lanjutan. Ini merupakan gerakan kolektif,” tegasnya.

Aksi ini menjadi salah satu bentuk kontrol sosial mahasiswa terhadap kebijakan dan kinerja lembaga publik. Mahasiswa berharap tuntutan yang disampaikan dapat menjadi perhatian serius bagi para pemangku kebijakan di Kalimantan Utara.

Senin, 23 Februari 2026

Inisiasi Pusat Studi Kepolisian di UBT Picu Pro–Kontra di Kalangan Mahasiswa

Tarakan, 4 Februari – Rencana pembentukan Pusat Studi Kepolisian di Universitas Borneo Tarakan (UBT) memunculkan dinamika di tengah civitas akademika. Inisiasi kerja sama antara pihak kampus dan Kepolisian Daerah Kalimantan Utara yang berlangsung pada 4 Februari lalu memantik beragam respons, khususnya dari mahasiswa.

Kepala Biro Sumber Daya Manusia Polda Kaltara, Kombes Pol Warsono, menjelaskan bahwa gagasan pembentukan pusat studi tersebut dilatarbelakangi oleh semakin kompleksnya tantangan keamanan di era modern. Perkembangan teknologi, kejahatan siber, hingga isu hak asasi manusia dinilai membutuhkan pendekatan berbasis riset dan kolaborasi akademik.

“Kolaborasi antara kepolisian dan universitas bertujuan menghasilkan riset berbasis data guna meningkatkan profesionalisme Polri serta kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kegiatan yang direncanakan meliputi penelitian, seminar, dan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kerja sama ini tidak akan mengintervensi kebebasan akademik kampus. Menurutnya, pusat studi justru diharapkan menjadi ruang diskusi ilmiah yang melibatkan dosen dan mahasiswa dalam mengkaji berbagai isu, termasuk kultur pelayanan Polri yang sesuai dengan harapan publik.

“Tidak ada tujuan membatasi aktivitas mahasiswa. Kami menjunjung tinggi tridharma perguruan tinggi dan hanya berkolaborasi dalam kajian akademik,” tambahnya.

Di sisi lain, Presiden Mahasiswa UBT, Ariandy Fahreza, menyampaikan bahwa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sempat mengeluarkan pamflet penolakan pada tahap awal. Penolakan tersebut muncul karena mahasiswa merasa tidak dilibatkan dalam proses perencanaan kerja sama.

Aspirasi itu, menurutnya, disuarakan oleh lebih dari 100 mahasiswa melalui media sosial BEM.

Namun, setelah melakukan audiensi dengan pihak rektorat, BEM memperoleh klarifikasi bahwa kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani sejak 2023. Hingga saat ini, pembentukan pusat studi disebut belum memasuki tahap final di lingkungan kampus.

“Untuk saat ini, pusat studi belum dipastikan akan dibentuk di UBT. Kami masih mengkaji dokumen MoU dan PKS agar seluruh proses transparan dan dapat dipahami mahasiswa,” jelasnya.

BEM UBT menegaskan posisinya sebagai mitra kritis sekaligus mitra strategis kampus. Mereka menyatakan terbuka terhadap kerja sama yang mendukung pengembangan akademik, selama tidak mengganggu independensi universitas maupun daya kritis mahasiswa.

“Kami akan menolak jika pusat studi ini berpotensi membungkam kebebasan akademik. Mahasiswa harus tetap menjadi agent of change,” tegasnya.

Terkait batasan kerja sama, BEM menyebut kolaborasi hanya mencakup tiga bidang utama, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, mereka juga mengusulkan agar apabila pusat studi benar-benar dibentuk, lokasinya berada di luar area utama kampus guna menjaga ruang akademik tetap independen.

Meski menuai pro dan kontra, kedua pihak sepakat membuka ruang dialog. Kepolisian berharap kolaborasi ini dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pelayanan publik. Sementara itu, mahasiswa menekankan pentingnya transparansi, partisipasi, dan jaminan kebebasan akademik.

Dinamika ini menunjukkan bahwa rencana pembentukan Pusat Studi Kepolisian di UBT masih berada pada tahap awal. Keputusan akhir nantinya diharapkan lahir dari proses dialog yang terbuka, partisipatif, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai akademik. 

Senin, 22 Desember 2025

Aklamasi Presma–Wapresma UBT 2025 Kembali Terjadi, Demokrasi Kampus Dipertanyakan


PERSMA, 22 Desember 2025 — Pemilihan Mahasiswa Raya (Pemira) Universitas Borneo Tarakan (UBT) tahun 2025 kembali menetapkan Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa secara aklamasi. Penetapan ini dilakukan karena hingga batas akhir pendaftaran yaitu pada tanggal 16 Desember 2025 hanya terdapat satu pasangan calon yang mendaftarkan diri.


Zikrul  Gibran  selaku  Ketua  Komisi  Pemilihan  Umum  Mahasiswa  Universitas  Borneo Tarakanmenyatakan bahwa keputusan aklamasi tersebut diambil berdasarkan yurisprudensi atau keputusan KPUM pada periode sebelumnya. Pada Pemira 2022 untuk periode 2023, mekanisme yang sama juga diterapkan akibat hanya adanya calon tunggal. Selain itu, hingga saat ini belum terdapat aturan khusus yang mengatur mekanisme pemilihan apabila hanya terdapat satu pasangan calon.


Tidak ada aturan yang mengatur apabila hanya ada satu calon, sehingga kami merujuk pada keputusan KPUM terdahulu,” ujar Ketua KPUM UBT.


Secara  kelembagaan,  KPUM  mengaku sebenarnya mengharapkan adanya lebih dari satu pasangan calon agar Pemira berjalan dengan kontestasi. Berbagai upaya disebut telah dilakukan, mulai dari membuka pendaftaran hingga melakukan perpanjangan masa pendaftaran. Namun, hingga batas akhir perpanjangan, tetap hanya satu pasangan calon yang mendaftar.


KPUM UBT juga menyatakan telah memberikan waktu seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk mendaftarkan diri sebagai calon Presma dan Wapresma, termasuk dengan melakukan perpanjangan  masa   pendaftaran.   Menurut   KPUM,   seluruh   tahapan   pencalonan   telah dijalankan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.


Namun, penilaian berbeda disampaikan oleh Ariansah selaku Ketua Panitia Pengawas Pemira (Panwaslu) UBT. Ia menilai waktu pencalonan justru terlalu singkat dan terkesan mendadak. Menurut Panwaslu, tahapan pencalonan idealnya disiapkan sekitar dua bulan sebelum pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes). Tahapan yang berlangsung dalam waktu terbatas dinilai tidak memberi ruang yang cukup bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri, merumuskan  gagasan,  maupun  membangun  basis  dukungan.  Akibatnya,  hanya  segelintir pihak yang siap maju, sementara potensi calon lain gugur sebelum sempat dipertimbangkan.


“Menurut  saya  waktunya  terlalu  cepat.  Idealnya  dua  bulan  sebelum  Mubes,  sementara kemarin itu hanya berlangsung dalam hitungan minggu, sehingga mahasiswa terkesan kaget,” ujarnya.


Terkait  minimnya  jumlah calon,  KPUM  menegaskan bahwa hal tersebut bukan menjadi kapasitas penyelenggara untuk dianalisis lebih jauh. Menurut KPUM, tugas penyelenggara sebatas menjalankan  tahapan  Pemira  sesuai  dengan  aturan  yang  berlaku.  Adapun  soal mengapa  kembali  hanya  ada  satu  calon,  dinilai  lebih  tepat ditanyakan kepada pengamat politik kampus.


Sementara itu, Panwaslu menilai bahwa kondisi calon tunggal berdampak pada kualitas demokrasi kampus yang dinilai kurang hidup. Pemira dengan satu calon disebut tidak menghadirkan dinamika maupun “perlawanan” sebagaimana mestinya dalam proses demokrasi.



Menurut Panwaslu, rendahnya partisipasi mahasiswa tidak dapat dilepaskan dari lemahnya budaya berorganisasi  di  lingkungan  kampus.  Banyak  mahasiswa  dinilai  kurang  aktif mengikuti forum-forum demokrasi, sehingga minat untuk mencalonkan diri maupun terlibat dalam Pemira menjadi rendah.


“Mahasiswa kurang minat ikut rapat dan kurang terlibat. Jadi saat pemilihan datang, mereka tidak tertarik. Padahal demokrasi kampus itu harus sering dihidupkan supaya ada keberpihakan dan kontestasi,” tambahnya.


Meski aklamasi dinilai sah secara aturan, Panwaslu menegaskan bahwa Pemira dengan calon tunggal tetap menyisakan persoalan substantif dalam demokrasi kampus. Pemilihan tanpa kontestasi dianggap menghilangkan esensi demokrasi sebagai ruang adu gagasan dan pilihan. 


Kondisi ini sejalan dengan kritik yang menyebut bahwa aklamasi yang terus berulang bukan lagi sekadar persoalan teknis, melainkan cerminan menyempitnya ruang demokrasi mahasiswa. Ketika mahasiswa  tidak  dihadapkan  pada  pilihan,  hak  demokratis  mereka perlahan kehilangan makna.


Aklamasi yang berulang juga membawa konsekuensi terhadap legitimasi kepemimpinan mahasiswa. Tanpa proses kontestasi dan pengujian publik, kepemimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) berisiko kehilangan basis moral sebagai representasi kehendak kolektif mahasiswa.


Fenomena  aklamasi  Presma  dan  Wapresma  UBT  2025  ini  menjadi  catatan  penting bagi seluruh elemen kampus. Demokrasi kampus tidak cukup hanya sah secara prosedural, tetapi juga harus hidup secara substansial. Jika tidak, Pemira berisiko hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa makna demokrasi yang sesungguhnya.


Senin, 10 November 2025

Astawarsa HMTM FT-UBT: Delapan Tahun Bersatu untuk Menghadirkan Teknologi Inovatif

PERSMA, 11 November 2025 – Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Borneo Tarakan (HMTM FT-UBT) sukses menyelenggarakan Opening Ceremony Astawarsa HMTM FT-UBT pada 9 November 2025 di Gedung Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kota Tarakan. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan alumni Teknik Mesin, dengan semangat mempererat kebersamaan serta menumbuhkan jiwa inovatif mahasiswa melalui rangkaian acara yang sarat makna.

Dalam pelaksanaannya, Astawarsa HMTM FT-UBT 2025 mengusung tema besar “Menyatukan Energi, Menghadirkan Teknologi”. Tema ini menggambarkan semangat kolaborasi dan kebersamaan seluruh elemen di HMTM untuk terus berinovasi dan berkontribusi bagi kemajuan fakultas.

Ketua Umum HMTM FT-UBT, Muhammad Abdika Putra, menjelaskan bahwa tema tersebut memiliki makna yang mendalam mengenai pentingnya persatuan antar seluruh unsur yang ada di Teknik Mesin. “Menyatukan energi di sini bukan hanya tentang semangat, tapi tentang kebersamaan. Di dalam HMTM FT-UBT tidak hanya ada pengurus, tetapi juga alumni, dosen, dan seluruh mahasiswa aktif. Kami berharap dari tiga elemen tersebut bisa bersatu dalam satu semangat yang sama untuk menghadirkan teknologi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa menghadirkan teknologi bukan sekadar menciptakan alat, melainkan bagaimana mahasiswa Teknik Mesin dapat berbenah, berpikir jauh ke depan, serta memiliki arah pandang yang jelas demi kemajuan himpunan dan fakultas. “Teknologi itu bukan hanya alat atau inovasi fisik. Ini juga tentang bagaimana kita bisa menata diri, belajar dari lingkungan, dan menciptakan sesuatu yang punya nilai dan arah bagi masa depan HMTM FT-UBT,” tambahnya.

Dalam wawancara, Abdika juga menyampaikan harapan agar seluruh anggota HMTM semakin memahami arti berproses dan pentingnya menjaga kekompakan dalam organisasi “Harapan saya, semoga seluruh anggota semakin solid dan paham bahwa berproses itu tidak mudah. Semoga semuanya semakin memiliki integritas dan loyal terhadap himpunannya, tetap jadi bara api yang menyala pada generasi kita,” tutur Abdika.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Astawarsa, HMTM FT-UBT juga menggelar Seminar Technopreneurship dengan tema “Menumbuhkan Jiwa Entrepreneur Mahasiswa Melalui Wirausaha dan Solusi Inovatif Pengelolaan Limbah”.

Menurut Abdika, kegiatan seminar ini berperan penting dalam mendukung visi HMTM untuk mencetak mahasiswa yang inovatif dan solutif terhadap tantangan industri serta isu lingkungan. “Melalui seminar ini, mahasiswa memperoleh pengetahuan baru tentang bagaimana ide-ide teknis dapat dikembangkan menjadi solusi bernilai ekonomi dan sosial. Narasumber yang dihadirkan pun berasal dari akademisi dan pelaku industri, sehingga mahasiswa bisa belajar langsung dari pengalaman mereka,” terangnya.

Ketua Panitia Opening Ceremony Astawarsa HMTM FT-UBT, Ardiansyah Pratama, membagikan kisah di balik proses panjang persiapan kegiatan tersebut. “Persiapannya cukup panjang, dimulai dari pembentukan panitia, rapat konsep acara, pembagian tugas, hingga tahap pelaksanaan. Banyak hal yang harus kami urus, mulai dari perizinan, publikasi, hingga teknis di lapangan. Tapi berkat kerja sama dan kekompakan seluruh panitia, alhamdulillah semuanya berjalan lancar,” ungkap Ardiansyah.

Ia juga menuturkan bahwa kegiatan ini memiliki tujuan besar, yakni mempererat hubungan antara mahasiswa, dosen, dan alumni, serta menumbuhkan semangat kolaborasi di lingkungan Teknik Mesin “Kami ingin acara ini menjadi wadah pengembangan diri dan pemikiran kreatif mahasiswa, terutama dalam bidang teknologi dan technopreneurship. Harapannya, kegiatan ini bisa membuka peluang baru bagi mahasiswa untuk berkontribusi lebih luas,” tambahnya.

Ardiansyah menyampaikan apresiasi terhadap semua pihak yang berperan dalam kesuksesan acara. “Kesuksesan ini tidak lepas dari dukungan jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, dosen pembina, alumni, sponsor, dan seluruh panitia yang bekerja keras dengan penuh tanggung jawab. Semua elemen tersebut sangat berperan dalam keberhasilan kegiatan Astawarsa tahun ini,” lanjutnya.

Menutup wawancara, baik Ketua Umum maupun Ketua Panitia sepakat bahwa semangat kebersamaan yang lahir dari kegiatan Astawarsa ini harus terus dijaga.

“Semoga HMTM FT-UBT terus menjadi rumah yang mempersatukan energi dan semangat seluruh anggotanya, serta mampu melahirkan inovasi dan karya teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” pungkas Muhammad Abdika Putra.

Sementara Ardiansyah Pratama berharap kegiatan ini dapat menjadi pemantik semangat baru bagi seluruh mahasiswa Teknik Mesin. “Saya berharap kekompakan dan solidaritas yang terjalin selama persiapan acara ini bisa terus dijaga. HMTM bukan hanya wadah kegiatan, tapi juga tempat untuk tumbuh bersama dalam inovasi dan kebersamaan,” tutupnya.

Sabtu, 11 Oktober 2025

Gema Daya Matematika 2025: Himaptika UBT Wujudkan Generasi Cerdas dan Berintegritas Melalui Prestasi dan Sportivitas


PERSMA, 10 OKTOBER 2025
— Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika (Himaptika) Universitas Borneo Tarakan (UBT) kembali menggelar kegiatan tahunan Gema Daya  Matematika  2025.  Tahun ini, kegiatan tersebut mengusung tema “Merajut Prestasi, Mengasah  Logika,  dan  Menjunjung  Sportivitas  melalui  Gema Daya Matematika Menuju Generasi Muda yang Cerdas dan Berintegritas.” Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Auditorium Lantai 4 Gedung Rektorat Universitas Borneo Tarakan.

Gema Daya Matematika merupakan ajang tahunan yang menjadi wadah bagi pelajar untuk mengasah logika, prestasi, dan sportivitas melalui berbagai lomba dan kompetisi di bidang matematika.  Kegiatan  yang  berlangsung  selama  tiga  hari  ini  diikuti  oleh  lebih  dari 150 peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SMP, SMA, SMK, hingga perguruan tinggi   se-Kalimantan   Utara.   Jumlah   tersebut   meningkat   pesat   dibandingkan   tahun sebelumnya yang hanya mencapai sekitar 120 peserta.

Perdi, selaku Ketua Panitia Gema Daya Matematika 2025, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kembali minat siswa terhadap matematika. “Kebanyakan pelajar masih menganggap matematika itu menakutkan, padahal sebenarnya pembelajaran matematika bisa menyenangkan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujar Perdi.

Ia menambahkan bahwa tema tahun ini diusung untuk mendorong semangat berkompetisi sekaligus menanamkan nilai-nilai kejujuran dan kerja sama di kalangan peserta. Menurutnya, tantangan utama dalam pelaksanaan kegiatan ini terletak pada keterbatasan sarana dan prasarana.  Namun,  berkat  kolaborasi  dan  solidaritas  antar  panitia,  semua  kendala  dapat teratasi dengan baik.


Sementara itu, Agung Nusantara Aji, Ketua Umum Himaptika UBT, menilai peningkatan jumlah  peserta  merupakan  bukti  nyata  bahwa  minat  terhadap  matematika di Kalimantan Utara semakin tumbuh.

“Saya bangga melihat antusiasme para pelajar. Walaupun minat belajar matematika di Indonesia masih rendah, ternyata di Kalimantan Utara masih banyak yang semangat dan mau belajar matematika,” ungkap Agung.

Ia juga menekankan bahwa Gema Daya Matematika bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai logika dan sportivitas. “Kami berharap peserta bisa melihat bahwa matematika itu tidak sekadar angka dan rumus, tapi juga bagian dari kehidupan nyata,” tambahnya.

Selain Gema Daya Matematika, Himaptika UBT juga memiliki berbagai program lanjutan, salah satunya Bimbingan Matematika, yang mengajak mahasiswa untuk mengajar di daerah daerah terpencil di Tarakan. Program ini bertujuan memperluas dampak sosial dan meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap matematika.

Di akhir kegiatan, baik Ketua Panitia maupun Ketua Umum menyampaikan harapan agar Gema Daya Matematika terus berlanjut dan semakin berkembang. “Semoga  Gema  Daya  Matematika  ke  depan  bisa  lebih  besar  lagi dan mampu mencetak generasi yang berpikir logis, kreatif, dan berintegritas,” tutup Agung.

Rabu, 01 Oktober 2025

Harmony in Diversity: English Community Universitas Borneo Tarakan Rayakan 15 Tahun dengan Semangat Kolaborasi dan Edukasi


PERSMA, 1 Oktober 2025 – Unit Kegia tan Mahasiswa (UKM) English Community (E-COM) Universitas Borneo Tarakan menyelenggarakan peringatan Dies Natalis ke-15 sekaligus Family Gathering pada 27 September 2025. Dengan mengangkat tema “Harmony in Diversity: Sharing Knowledge and Strengthening Our Eternal Connection”, kegiatan ini hadir dengan konsep baru yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Ketua Umum E-COM, Ageng Priyo Wijaya, menjelaskan bahwa perayaan tahunan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga diisi dengan kegiatan seminar. “Tahun ini kami menghadirkan seminar karier yang menghadirkan narasumber dari alumni E-COM yang sudah berprestasi di bidangnya. Harapannya, seminar ini bisa membuka wawasan mahasiswa tentang pentingnya Bahasa Inggris untuk masa depan karier mereka,” ujarnya.

E-COM ingin menegaskan semangat persatuan dalam keberagaman. “Anggota kami bukan hanya dari jurusan Bahasa Inggris, tapi juga dari Ekonomi, Hukum, Pertanian, hingga Perikanan. Jadi kami ingin menunjukkan bahwa siapa pun bisa belajar Bahasa Inggris, dan keberagaman itu justru memperkuat ikatan kami,” tambah Ageng Priyo Wijaya.

Selain seminar, UKM E-COM juga memiliki program rutin untuk menjaga kekompakan anggota, seperti E-COM Sport yang dilaksanakan sebulan sekali, Weekly Meeting untuk belajar bersama Bahasa Inggris, serta program siaran mingguan di RRI.


Sementara itu, Ketua Panitia Dies Natalis ke-15, Nur Khofifah, menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan berlangsung selama dua hari. Hari pertama diisi dengan seminar bertema pemberdayaan pemuda melalui Bahasa Inggris dan keberagaman serta public speaking. “Seminar ini tidak hanya untuk anggota E-COM, tapi juga dibuka untuk umum, dengan sekitar 30 peserta yang mendaftar,” jelasnya.

Adapun hari kedua diwarnai acara Prom Night yang dihadiri alumni, pendiri, serta anggota E-COM. Menurut Nur, acara tersebut menjadi wadah mempererat hubungan lintas generasi dalam keluarga besar E-COM.

Nur Khofifah menyampaikan harapannya agar kegiatan ini semakin memperkuat solidaritas internal E-COM serta memberikan manfaat nyata bagi peserta. “Kami berharap materi seminar bisa berguna dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris dan public speaking,” ungkapnya.

Dengan konsep yang lebih variatif dan terbuka, perayaan Dies Natalis ke-15 UKM English Community diharapkan mampu menjadi momentum mempererat persaudaraan sekaligus menumbuhkan motivasi bagi mahasiswa Universitas Borneo Tarakan untuk terus mengasah keterampilan Bahasa Inggris.

Jumat, 26 September 2025

GEMBINAS 2025: Ruang Kolaborasi Generasi Muda Untuk Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan


PERSMA, 27 September 2025 – Dengan mengusung tema “Quo Vadis Sustainable Development: Retorika Hijau vs Realita Abu-Abu”, Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan (UBT) kembali menyelenggarakan GEMBINAS (Gelora Ekonomi Muda dan Bisnis Nasional) tahun 2025. Kegiatan ini menjadi ruang aktualisasi dan kolaborasi generasi muda, dengan visi melahirkan gagasan serta jejaring yang mampu memberi kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi nasional.

Ketua Umum Himpunan Ekonomi Pembangunan UBT, Andi Syahbania, menegaskan bahwa GEMBINAS selaras dengan misi organisasi, yakni mencetak mahasiswa kritis, adaptif, dan berjiwa entrepreneur. “GEMBINAS menjadi sarana untuk mengintegrasikan keilmuan ekonomi pembangunan dengan semangat kepemudaan dan kewirausahaan,” ujarnya.

Tema yang diangkat tahun ini lahir dari refleksi terhadap tantangan pembangunan berkelanjutan yang dihadapi Indonesia. “Kami ingin mengajak generasi muda melihat lebih dalam: sejauh mana retorika hijau bisa diwujudkan dalam realitas abu-abu pembangunan ekonomi nasional. Tema ini relevan agar kita tidak hanya berteori, tapi juga beraksi,” tambahnya.

Dari sisi penyelenggaraan, panitia telah menyiapkan persiapan teknis dan non-teknis yang matang. Mulai dari penyusunan rundown, pembagian tugas, koordinasi dengan narasumber, hingga publikasi masif baik secara online maupun offline. Kendala waktu dan penyesuaian jadwal berhasil diatasi melalui pembagian kerja yang lebih detail dan fleksibilitas koordinasi.

Ketua Panitia GEMBINAS 2025, Anggun Sarwana Natasya, mengungkapkan bahwa acara tahun ini menghadirkan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Selain kompetisi akademis, terdapat edukasi lingkungan yang dikemas dalam semangat “Salam Hijau, Salam Berkelanjutan, Salam GEMBINAS”. Panitia juga menggandeng lebih banyak sponsor, mitra, serta organisasi eksternal untuk memperkuat dampak kegiatan.

Dukungan dari fakultas, universitas, hingga stakeholder eksternal juga sangat besar. Hal ini semakin memotivasi panitia untuk menghadirkan acara yang berkualitas. “Alhamdulillah, dukungan yang kami terima sangat baik, mulai dari fasilitas, kepercayaan, hingga bantuan publikasi. Ini menjadi energi besar bagi kami untuk memberi hasil terbaik,” tutur Anggun.

Harapan besar pun ditujukan bagi mahasiswa, khususnya Ekonomi Pembangunan, agar tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga agen perubahan. “Kontribusi bisa berupa gagasan kritis, inovasi bisnis, maupun aksi nyata dalam memajukan pembangunan berkelanjutan,” tegas Andi Syahbania.

Sebagai penutup, ia menyampaikan pesan khusus bagi seluruh peserta dan panitia. “Untuk peserta, manfaatkan kesempatan ini untuk belajar, berdiskusi, dan membangun jaringan. Untuk panitia, teruslah bekerja dengan ikhlas dan profesional, karena apa yang kita lakukan hari ini akan memberi jejak baik di masa depan.”

Dengan target memperluas jejaring, memberi pengalaman akademis dan organisasi yang bermakna, serta menjadikan GEMBINAS sebagai kegiatan tahunan yang semakin berkualitas, Gelora Ekonomi Muda dan Bisnis Nasional 2025 siap menjadi wadah kontribusi nyata generasi muda bagi pembangunan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Minggu, 21 September 2025

HMTM UBT Gelar Hakteknas Ke-30, Mendorong Inovasi Teknologi Tepat Guna Di Kota Tarakan.

PERSMA. 20 September 2025 - Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin (HMTM) Fakultas Teknik Universitas Borneo Tarakan (UBT) sukses menyelenggarakan kegiatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang ke-30, dengan mengusung tema “Membangkitkan Peran Generasi Muda Tarakan Sebagai Pilar Inovasi Teknologi Tepat Guna”. 

Ketua Panitia, Reza Saputra Wahab, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang sering diadakan. Kegiatan ini tidak hanya merupakan sekadar peringatan tahunan sahaja, tetapi juga menjadi wadah untuk menambah pengetahuan tentang teknologi tepat guna dan memperlihatkan hasil penelitian mahasiswa.

“Kami ingin menunjukkan sejauh mana alat-alat yang sudah dibuat dapat tepat guna, apakah sudah diarahkan ke masyarakat atau belum,” ujarnya.

Peserta kegiatan berasal dari berbagai organisasi mahasiswa di lingkup Universitas Borneo, khususnya mahasiswa teknik. Kegiatan ini juga menghadirkan ruang diskusi antara mahasiswa, pihak akademisi, dan pemerintah mengenai pengembangan teknologi tepat guna yang ada di ruang lingkup Kota Tarakan.

Sejumlah inovasi yang dipamerkan antara lain mesin pencacah plastik, mesin pengering rumput laut, cooler box, inkubator telur, teknologi plasma terbaru, tungku biomassa, hingga alat pembakaran arang. Semua karya tersebut merupakan hasil riset mahasiswa jurusan Teknik Mesin.

Sementara itu, Ketua Umum HMTM FT-UBT, Muhammad Abdika Putra, menilai kegiatan ini memberikan pengaruh bagi mahasiswa, khususnya jurusan Teknik Mesin. Menurutnya, mahasiswa yang masih semester awal perlu diarahkan agar inovasi yang mereka buat dapat relevan dengan kebutuhan masyarakat, bahkan menjadi dasar dalam penyusunan skripsi di semester akhir.

 

Selain itu, Abdika menjelaskan bahwa pameran yang digelar dalam kegiatan ini merupakan bentuk nyata kontribusi mahasiswa.

"Tidak hanya sekadar teori, tapi ada bukti karya yang bisa dilihat dan diaplikasikan,” jelasnya.

 

Ia menambahkan, HMTM melalui Divisi Riset dan Teknologi (Ristek) memiliki program Engineering to Innovator (E2I) yang berfungsi sebagai wadah regenerasi untuk menampung ide-ide baru mahasiswa dan mengembangkannya menjadi penelitian bersama dengan mesin aktif lainnya.

 

Sebagai penutup, Abdika berpesan agar mahasiswa bersama-sama berkreativitas dan berinovasi dan tetap peka terhadap lingkungan sekitar. 

“Teknologi tidak harus mahal atau canggih, yang terpenting adalah bisa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

 

Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-30 ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa Universitas Borneo Tarakan untuk terus berinovasi serta menghadirkan solusi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Keputusan Tengah Malam BPM UBT Dipertanyakan: RDP Belum Libatkan Seluruh KBM, Mengapa Presma Langsung Diberhentikan?

PERSMA, 19 April 2026 – Keputusan Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas Borneo Tarakan (BPM UBT) memberhentikan Ketua Umum BEM UBT Muhammad...