TARAKAN, 01 Oktober 2026 – Memperkuat literasi keuangan di wilayah perbatasan bukan sekadar urusan perbankan, melainkan hak seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Semangat inilah yang diwujudkan oleh AYS Indonesia melalui gelaran Rupiahverse Fest 2026 di Kota Tarakan, Kalimantan Utara.
Menggandeng Bank Indonesia (BI), Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), serta Pemerintah Kota Tarakan, acara ini sukses merayakan inklusi ekonomi dengan menempatkan penyandang disabilitas sebagai aktor utama.
Penggagas acara sekaligus perwakilan AYS Indonesia, Abrar, mengungkapkan bahwa posisi strategis Kalimantan Utara sebagai provinsi yang berbatasan langsung dengan negara tetangga menjadi alasan mendasar digelarnya agenda ini.
"Kita ingin menumbuhkan rasa cinta, bangga, dan paham terhadap Rupiah di seluruh kalangan masyarakat perbatasan. Namun, pemahaman ini harus inklusif. Teman-teman disabilitas harus ikut merasakan menjadi bagian dari kegiatan besar ini," ujar Abrar di sela-sela kegiatan.
Bukan Sekadar Penonton, Tapi Aktor Utama
Yang membuat gelaran hasil persiapan selama tiga bulan ini istimewa adalah keterlibatan aktif kelompok disabilitas. Mereka tidak hadir sekadar sebagai tamu undangan, melainkan memamerkan inovasi kerajinan tangan, menampilkan bakat seni, hingga mengambil peran dalam kepanitiaan, seperti petugas pembaca doa.
Abrar memaparkan, pendekatan fisik dan emosional dilakukan agar setiap ragam disabilitas bisa merasakan semangat Rupiahverse Fest. "Teman-teman yang menggunakan kursi roda tetap bisa merasa melangkah maju, teman tunanetra bisa meraba langsung tekstur uang Rupiah, dan teman tunarungu bisa melihat serta merasakan kehangatan acara ini," jelasnya.
Antusiasme acara ini terbukti mampu menjangkau lintas generasi, dari pelajar Sekolah Dasar (SD) hingga lansia. Pada sesi expo, tercatat sekitar 200 peserta hadir untuk mengapresiasi langsung inovasi dan karya teman-teman disabilitas. Sementara itu, rangkaian penutup pada hari Minggu yang diisi dengan senam bersama dan pemeriksaan kesehatan diproyeksikan menyedot hingga 400 peserta.
Pesan untuk Generasi Muda dan Rencana Ekspansi
Melihat semangat teman-teman disabilitas yang luar biasa dalam menyalurkan hobi seperti membuat kerajinan tangan dan menulis puisi, Abrar mengaku sangat terinspirasi. Tidak ada kendala berarti selama acara, yang tersisa justru rasa bangga dari seluruh tim dan pihak yang berkolaborasi.
Ke depan, AYS Indonesia tidak berencana berhenti di Tarakan. Acara serupa ditargetkan akan segera digelar kembali dan diperluas hingga menjangkau daerah lain di Kalimantan Utara, seperti Nunukan, Malinau, dan Tanjung Selor. Abrar juga berharap institusi pendidikan seperti Universitas Borneo Tarakan (UBT) serta media massa dapat terus membantu memperluas gaung inklusi ini.
Sebagai penutup, Abrar menitipkan pesan menohok bagi generasi muda. "Kalau teman-teman yang memiliki keterbatasan saja bisa berkarya dan berkontribusi, maka kita juga harus bisa. Semangat teman-teman disabilitas ini seharusnya menjadi tamparan positif sekaligus contoh bagi kita untuk terus menjadi lebih baik," tegasnya

