PERSMA, 25 Mei 2026 — Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Borneo Tarakan (UBT) mengadakan seminar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bertema “Optimalisasi Penerapan K3 untuk Mewujudkan Produktivitas Tinggi dan Lingkungan Kerja Berkelanjutan” dengan fokus pada penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Kegiatan ini juga menghadirkan demonstrasi praktis dan sesi tanya jawab untuk membekali mahasiswa dalam menghadapi potensi kebakaran di lingkungan kampus.
Ketua Panitia, Ahmad Rifauddin menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan karena masih rendahnya pemahaman K3 di kalangan mahasiswa UBT, terutama terkait penggunaan APAR. Menurut Ahmad, saat dihadapkan pada situasi darurat yang tidak terduga, masih banyak mahasiswa yang kebingungan karena belum mengetahui prosedur penanganan yang benar. Oleh karena itu, penting untuk memperkuat kapasitas civitas akademika dalam hal keselamatan.
“Kami mengangkat sosialisasi K3 ini karena mahasiswa di Universitas Borneo masih minim pengetahuan tentang K3 dan cara penerapannya. Maka kami angkat topik ini supaya mahasiswa lebih paham,” ujar Ahmad.
Ahmad juga menjelaskan tantangan dalam pelaksanaan kegiatan, yakni mengajak partisipasi mahasiswa dari seluruh jurusan dan organisasi mahasiswa (UKM) agar informasi yang diberikan dapat tersebar secara merata.
Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin periode 2026, Ardiansyah Pratama, menjelaskan bahwa tema seminar dipilih karena relevansi antara pendidikan teknik dan dunia industri yang penuh risiko. Ardiansyah menilai penerapan K3 bukan sekadar kewajiban, tetapi juga kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga keberlanjutan lingkungan kerja.
“Kami sadar khususnya bagi mahasiswa teknik akan berhadapan dengan berbagai bahaya di industri. Seminar ini diadakan agar kita lebih siap menghadapi hal tersebut dan agar penerapan K3 tidak berhenti pada wacana,” ujar Ardiansyah.
Ardiansyah percaya kegiatan ini akan berdampak positif dalam mempersiapkan mahasiswa memasuki dunia kerja. Usai seminar, himpunan berencana menyusun program kerja lanjutan dan menjalin kolaborasi dengan ormawa lain untuk membentuk relawan kebakaran atau tim tanggap darurat kampus guna meningkatkan kesiapsiagaan dan respons dalam situasi darurat.
“Setelah kegiatan ini kami akan menyusun program kerja yang lebih konkret dan mengajak ormawa lain bila berminat untuk membentuk tim relawan kebakaran,” jelas Ardiansyah.
Kedua narasumber sepakat bahwa sosialisasi ini harus terus berlanjut. Ahmad menekankan perlunya pengembangan materi, mulai dari pemadaman kebakaran ringan hingga strategi pencegahan dan evakuasi pada bangunan bertingkat. Menurutnya, beberapa gedung di UBT memiliki hingga lima lantai sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda.
“Ini baru tahap dasar pemadaman api ringan. Untuk gedung bertingkat, seperti lantai empat atau lima, penanganannya berbeda sehingga materi perlu dikembangkan,” ujar Ahmad.
Ardiansyah juga menyampaikan pesan kepada peserta dan civitas akademika agar pengetahuan yang diperoleh tidak hanya dipahami secara teori, tetapi diterapkan menjadi tindakan nyata di lingkungan kampus.
“Harapan saya peserta benar-benar merasakan manfaatnya dan meningkatkan kesadaran, sehingga kegiatan ini dilanjutkan dengan langkah konkret,” tuturnya.
Seminar K3 bertema optimalisasi penerapan keselamatan dan kesehatan kerja ini diharapkan menjadi langkah awal bagi terciptanya program keselamatan kampus yang lebih komprehensif, meliputi pelatihan berkala, penyediaan APAR yang memadai, serta pembentukan tim relawan tanggap kebakaran di tingkat jurusan dan organisasi mahasiswa.
RM